Berita

SISWA TK AL MUSLIM SIDOARJO GELAR 'SLAMATAN GUNUNG BLEDOS'

26 Oktober 2010

Sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di dunia, gunung Merapi di Jawa Tengah kembali  menunjukan aktivitas vulkanisnya di akhir tahun 2010 ini. Tanda-tanda akan meletusnya gunung merapi diikuti dengan perkembangan statusnya dari level normal, waspada, siaga hingga awas.

Seiring dengan peningkatan status Gunung Merapi dari 'Siaga' menjadi 'Awas', Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam belum bisa memprediksi apakah Merapi akan meletus atau tidak. Status  Awas yang ditetapkan hari Senin (25/10) pukul 06.00 bisa saja diturunkan dalam waktu dekat. Namun tidak tertutup kemungkinan status itu akan dipertahankan selama beberapa hari ke depan.

Sejak Senin (25/10) gunung Merapi resmi berada pada level tertinggi (awas) mengarah pada akan terjadinya letusan. Karena segala upaya menanggulangi datangnya bencana letusan gunung merapi segera dilakukan. Mulai dari evakuasi penduduk, menurunkan tim sar hingga menyiapkan jalur muntahan lava.

Berpedoman pada UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, maka Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) menyerukan segera melakukan evakuasi di daerah kelompok rawan bencana (KRB) pembagian wilayah KRB berdasarkan data historis letusan Gunung Merapi sebelumnya, yaitu masyarakat yang tinggal dalam radius hingga 10 kilometer. warga di KRB 2 dan 3 sudah harus mengungsi sementara KRB I masih menunggu perkembangan situasi.

Sebagai bentuk keprihatinan akan meletusnya gunung Merapi, sekolah KB-TK Al Muslim Sidoarjo mengajak siswanya untuk belajar bagaimana proses terjadinya gunung meletus melalui sebuah percobaan sains secara sederhana. Yakni, melalui media miniatur gunung yang diisi dengan bubuk soda kue berwarna merah bercampur butiran sterioform akan berhamburan ketika disuntikan cairan asam sitrat (cuka). Setelah tahu tentang proses gunung meletus dan dampak buruknya, siswa pun diajak berdoa untuk keselamatan penduduk di lereng gunung Merapi.

Menariknya, pada acara tersebut siswa juga dikenalkan dengan nasi tumpeng/gunungan khusus bagian dari prosesi ‘Slamatan  Gunung Bledos’. Yakni, berupa Tumpeng dengan lelehan saus tomat sambal di puncaknya dilengkapi sayuran dan lauk pauk di bawahnya sekaligus sebagai bagian dari mengenalkan kuliner tradisional dan makanan sehat.

Tumpeng Gunung Bledos sebanyak 5 buah itu sengaja di tempatkan pada empat penjuru arah mata angin dengan satu tumpeng di tengah sebagai sentralnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi pengertian kepada anak-anak betapa letusan gunung Merapi bergerak ke segala arah: Utara, Timur, Selatan, Barat. Pengenalan tata letak inipun bagian dari warisan falsafah Jawa kuno yang kelak dapat mereka pelajari demi melestarikan budaya leluhur.